
Aku masih saja berjalan jauh, hingga ke sudut manapun aku tidak menemukannya. Semakin aku berjalan, langkahku semakin lelah untuk bertemu. Detak jangtungku tidak berirama, bahkan tatapan mata menjadi tak ada ruang. Aku tak karuan. Semenjak kamu tidak lagi menjadi alasanku untuk tersenyum.
Menemukan
beberapa orang yang sedang berkelana pun bukan menjadi kesenanganku.
Singgah di rumah mereka dalam beberapa saat pun bukan menjadi
keinginanku. Aku mencoba untuk tidak melihat sosokmu di setiap
perjalananku dengan seseorang. Bukan karena ingin melupakan, tetapi
tanpa sadar aku menyakiti mereka.
Setiap
orang yang ditinggalkan dan meninggalkan akan mengalami hal yang sama,
yaitu merasakan sakit. Entahlah, bagi setiap orang itu hanyalah hal
sepele. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai ketidakdewasaan. Aku hanya
tersenyum kecil ketika komentar itu melayang memasuki rongga telingaku.
Mereka mencibir dan berkomentar, tanpa sadar mereka pun sedang merasakan
sakit di hatinya.
Ada
hal yang kurenungkan, bukan tentang sosoknya. Tetapi proses yang
membawaku untuk menyadari akan arti sebuah kehilangan. Mereka yang fokus
dengan sosoknya mungkin akan menyakiti dirinya sendiri dan orang lain,
tetapi fokuslah dengan proses yang terjadi. Menangislah sampai telingamu
mendengar, mencacilah sampai dirimu tertawa, bernyanyilah sampai kamu
dianggap gila dan merenunglah bahwa kita terlalu berharga untuknya.
Aku
harus mampu berdiri dan mempercepat langkahku. Bukan untuk mengejarnya,
tentu tidak. Tetapi mengikhlaskannya dan memaafkan, adalah obat yang
akan menjadi mahal ketika kita memilikinya untuk berhenti mencintai
seseorang. Ikhlas dan memaafkan adalah dua hal dari sebuah perasaan yang
semua orang memilikinya namun kadang menghilangkannya, yaitu kasih.
Kasih
itu pemaaf, lemah lembut dan setia. Aku pernah mencintainya dan
memberikan duniaku untuknya, sama seperti dia. Dia meninggalkanku untuk
saling berhenti menyakiti, itu adalah bagian dari kasih.
Maka,
ketika kau ditinggalkan atau meninggalkan, berhenti untuk melihat
kebencianmu. Orang yang pernah mencintaimu akan selalu mengasihimu.
Karena kasih banyak bentuknya, merelakannya pun adalah sebuah kasih.
Hatiku tidak sakit dan aku tidak akan menyakiti orang lain. Aku
mengasihimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.